Bicara tentang persaingan bisnis dewasa ini saya cenderung mengibaratkan seperti arung jeram. Artinya, pimpinan perusahaan harus selalu siaga setiap saat dan berjuang menjaga perahunya tidak menabrak atau terbalik  karena menghadapi arus yang deras dan hambatan dimana mana. Perumpamaan ini setidaknya pas untuk menggambarkan bisnis operator selular yang kini jumlahnya ada 10. Dalam situasi yang hiperkompetitif begitu, orang selalu bilang, harus kreatif, harus kreatif. Tapi, kreatif itu apa sih sebenarnya?

Menurut saya, kreatif itu tidak berarti harus menciptakan dari nol. Tapi, kita bisa belajar dari lingkngan. Saya orang Padang dan di kampung halaman saya ada peribahasa “alam terkembang jadi guru”. Kita belajar dari lingkungan sekitar, dari keberhasilan-keberhasilan orang lain. Saya ingat bagaimana Yamaha sempat menguasai pasar setelah lama sekali menjadi nomor 2 dan sempat terpuruk di nomor tiga karena diterpa isu polusi (produk motor ”2 tak” dianggap tidak ramah lingkungan).

Tidak mudah bagi Yamaha untuk mengembalikan posisinya karena para pesaing sudah merebut pasar. Di sinilah dituntut kreativitas. Yamaha masuk dari segmen pasar yang sebelumnya tak pernah diperhitungkan secara khusus, yakni kaum perempuan. Lahirlah motor matic Mio. Tentu saja itu juga tidak mudah karena pasar umum saja sudah susah ditembus, apalagi ini perempuan yang masa itu notabene belum pengendara motor. Tapi, sedikit demi sedikit mereka membuktikan bahwa perempuan pun bisa digarap sebagai pasar sepeda motor, dan dari segmen ini, Yamaha berhasil merebut kembali pasar kendaraan roda dua secara umum.

Kreativitas Yamaha itu menjadi inspirasi menarik. Kita harus mengambil langkah yang beda. Baik dari segi produknya itu sendiri maupun komunikasinya. Waktu mempersiapkan strategi ”low price – high volume” 3 tahun yang lalu kami belajar dari pengalaman India dan Thailand yang melakukan strategi sama namun dengan hasil yang berbeda.. Setidaknya dalam jangka pendek. Dalam kesempatan berikut saya akan tulis strategi dimaksud dengan lebih mendalam.

Kejahatan Melalui Internet  Yang Jahat Bukan Internetnya
Kejahatan Melalui Internet Yang Jahat Bukan Internetnya

Beberapa pekan terakhir ini, saya lihat media ramai memberitakan maraknya kejahatan yang dilakukan menggunakan jejaring sosial, facebook dan semacamnya. Salah satunya kasus penipuan yang dilakukan seseorang bernama Selly yang hingga kini masih terus dikejar polisi. Kemudian juga ada kasus penculikan seorang gadis yang bermula dari aktivitas berkenalan di facebook. Karena kabar-kabar negatif tersebut, mungkin kini orang mulai berfikir bahwa internet mempermudah orang melakukan kejahatan.

Sayang sekali jika kemudian orang menyalahkan internetnya. Jika suatu kejahatan terjadi, menurut saya, yang tidak benar adalah orangnya. Internet hanya dipergunakan untuk mempermudah si penjahat melakukan aksinya. Coba saja jika internet dipakai oleh seorang dokter untuk mempermudah dia melakukan operasi jantung, jadilah internet berguna untuk menyelamatkan nyawa orang. Internet menjadi bermanfaat untuk kebaikan.

Begitu pun dengan jejaring sosial, facebook misalnya. Menurut berita, seorang remaja tanggung pengangguran kini jadi tahanan polisi karena diduga melarikan anak gadis orang yang dia kenal melalui facebook. Kasus ini menunjukkan pemanfaatan internet untuk sesuatu yang negatif. Padahal, jika remaja itu berpikiran positif bisa saja dia mempergunakan facebook untuk mencari relasi sehingga memperoleh informasi misalnya bagaimana dia bisa memulai bisnis dengan modal yang kecil.

Soal kemungkinan penyalahgunaan internet oleh pemakainya ini, sudah jauh-jauh jadi perhatian kami di XL. Sejak 2006, saat tarif internet masih cukup tinggi pun, bekerjasama dengan ICT Watch, kami sudah menggagas program “Internet Sehat”. Spiritnya sederhana. Kami ini jualan internet ke masyarakat, bukan hanya ke kalangan bisnis. Kami yakin, keluarga-keluarga Indonesia akan bisa memanfaatkan internet untuk pendidikan dan berbagai macam keperluan lain. Namun, kami juga sadar, jika salah menggunakannya konsumen justru gagal mendapatkan manfaat bahkan bisa mendapatkan hal-hal negatif.

Jadi, program Internet Sehat ini sebagai bentuk tanggung jawab kami untuk mengingatkan masyarakat bahwa sebaiknya internet kita pergunakan untuk hal-hal yang positif, untuk kebaikan. Sekaligus juga kami mengingatkan masyarakat luas, agar waspada selalu atas berbagai hal negatif yang bisa dilakukan orang melalui internet. Pornografi, perjudian, upaya penipuan, dan semacamnya tersedia dalam jaringan internet. Mari kita mewaspadainya.

Seiring dengan semakin mudahnya orang untuk mengakses internet, kami pun akan semakin kencang dalam mengkampanyekan Internet Sehat. Kini tarif internet sudah jauh lebih murah dari 3-4 tahun silam. Ponsel untuk mengaksesnya pun semakin murah. Jaringan juga semakin luas. Demikian juga jumlah pengaksesnya. Saya kira ini menjadi pekerjaan kita bersama, termasuk para blogger, untuk tidak lelah mengingatkan masyarakat agar menggunakan internet secara positif, untuk kebaikan.

Sepert pepatah ‘a friend in need is a friend indeed’ tentunya kita ingin menjadi sosok teman yang suportif ketika si sahabat menderita penyakit serius. Begini caranya!

Compassionate Ear

Saat si sahabat menceritakan mengenai penyakit dan kondisi tubuhnya pada kita, pastikan kita mendengarkan dengan sepenuh hati. Listen carefully, make no judgments. Berikan ekspresi simpati, tapi jangan bersikap sok tahu dan memberi tanggapan seakan kita merasakannya juga. Remember, kondisi fisik teman yang sedang rapuh membuatnya rapuh juga secara psikologis. Artinya si sahabat bisa lebih sensitif saat menerima kata-kata dari luar. Kalimat basa-basi seperti “tabah ya” atau “semua pasti ada hikmahnya” pun bisa bikin dia jengah.

Helping Hand

“Kalau butuh apa-apa, just let me know yah. Aku akan bantu sebisaku,” adalah contoh kepedulian dan tawaran tulus yang bisa kita ungkapkan pada sahabat. Hindari memberikan reaksi atau perhatian yang terlalu berlebihan, karena justru bisa bikin dia nggak nyaman.

Hold Your Mouth

Saat mengetahui si sahabat terjangkit penyakit serius, tentu kita pun akan ikut merasa down. Kita pun mungkin merasa butuh curhat pada teman yang lain agar lebih lega. Tapi ingat, si sahabat bisa saja nggak nyaman bila penyakitnya dibicarakan dengan orang-orang lain. Hargai privasinya dan tahan diri untuk tidak bergosip mengenai sahabat.

Don’t Isolate

Si sahabat sakit bukan alasan tepat bagi kita untuk mengisolasinya dari berbagai aktivitas. Mungkin maksud kita baik, supaya dia nggak terlalu capek. Tapi dengan membuat keputusan sepihak baginya. Nggak ada salahnya tetap menginformasikan dan mengajak sahabat saat ada rencana karaoke, ngopi-ngopi, atau bahkan jogging bersama. Dia pasti lebih tahu kondisi tubuhnya sendiri, dan bisa menolak ajakan kita jika memang tak sanggup atau tak ingin ikut serta.

Stay in Touch

Last but not least, jadilah sahabat siaga yang mudah dihubungi. Menjaga kontak dengan si sahabat dalam masa-masa berat ini akan menjadi support yang sangat berarti.