Sepert pepatah ‘a friend in need is a friend indeed’ tentunya kita ingin menjadi sosok teman yang suportif ketika si sahabat menderita penyakit serius. Begini caranya!

Compassionate Ear

Saat si sahabat menceritakan mengenai penyakit dan kondisi tubuhnya pada kita, pastikan kita mendengarkan dengan sepenuh hati. Listen carefully, make no judgments. Berikan ekspresi simpati, tapi jangan bersikap sok tahu dan memberi tanggapan seakan kita merasakannya juga. Remember, kondisi fisik teman yang sedang rapuh membuatnya rapuh juga secara psikologis. Artinya si sahabat bisa lebih sensitif saat menerima kata-kata dari luar. Kalimat basa-basi seperti “tabah ya” atau “semua pasti ada hikmahnya” pun bisa bikin dia jengah.

Helping Hand

“Kalau butuh apa-apa, just let me know yah. Aku akan bantu sebisaku,” adalah contoh kepedulian dan tawaran tulus yang bisa kita ungkapkan pada sahabat. Hindari memberikan reaksi atau perhatian yang terlalu berlebihan, karena justru bisa bikin dia nggak nyaman.

Hold Your Mouth

Saat mengetahui si sahabat terjangkit penyakit serius, tentu kita pun akan ikut merasa down. Kita pun mungkin merasa butuh curhat pada teman yang lain agar lebih lega. Tapi ingat, si sahabat bisa saja nggak nyaman bila penyakitnya dibicarakan dengan orang-orang lain. Hargai privasinya dan tahan diri untuk tidak bergosip mengenai sahabat.

Don’t Isolate

Si sahabat sakit bukan alasan tepat bagi kita untuk mengisolasinya dari berbagai aktivitas. Mungkin maksud kita baik, supaya dia nggak terlalu capek. Tapi dengan membuat keputusan sepihak baginya. Nggak ada salahnya tetap menginformasikan dan mengajak sahabat saat ada rencana karaoke, ngopi-ngopi, atau bahkan jogging bersama. Dia pasti lebih tahu kondisi tubuhnya sendiri, dan bisa menolak ajakan kita jika memang tak sanggup atau tak ingin ikut serta.

Stay in Touch

Last but not least, jadilah sahabat siaga yang mudah dihubungi. Menjaga kontak dengan si sahabat dalam masa-masa berat ini akan menjadi support yang sangat berarti.